Demo Antipemerintah di Kolmbia Memasuki hari Ke 8, Keadaan Semakin Memanas Tindakan Aparat Makin Brutal
Bogota - Demonstration antipemerintah yang dipicu reformasi perpajakan terus berlangsung hingga hari kedelapan di Kolombia. Kelompok pembela hak asasi manusia khawatir atas tindakan keras aparat.
Polisi antihuru-hara melepaskan tembakan gas air mata untuk membubarkan demonstran di alun-alun Ibu Kota Bogota sekitar pukul 15.00 kemarin. Di bagian kota yang lain massa juga berkumpul untuk melawan aparat.
Demonstran mengatakan mereka akan terus turun ke jalan meski Presiden Ivan Duque dari aliran kanan sudah mencabut usulan reformasi pajak itu.
"Ya mereka sudah mencabut reformasi pajak itu tapi mereka belum mengubahnya," kata anggota serikat pekerja Olga Cabos, 48 tahun, yang ikut turun ke jalan sejak 28 April lalu di Bogota, seperti dilansir laman Aljazeera, Kamis (6/5).
"Kami tidak bisa membiarkan pemerintahan Duque terus-terusan mempersulit orang-orang miskin," kata dia kepada Aljazeera.
Unjuk rasa besar-besaran ini dipicu oleh reformasi perpajakan yang kata pemerintah bertujuan menstabilkan ekonomi akibat dihantam pandemi. Namun kelompok pekerja dan kaum menengah menyebut rencana reformasi pajak itu justru untuk menguntungkan kaum kaya dan mempersulit kaum miskin.
Duque mencabut pengajuan reformasi pajak itu pada Minggu dan menteri keuangan mengundurkan diri sehari kemudian. Namun kini demonstran menuntut usulan reformasi kesehatan juga dicabut dan mereka mendesak upah minimun bagi seluruh rakyat Kolombia sebesar USD 260 atau Rp 3,7 juta.
"Meski reformasi pajak menjadi pemicu demo, namun protes di Kolombia ini menggambarkan kondisi sosial, politik, ekonomi yang harus dihadapi pemerintahan Duque," kata Arlene Tickner, profesor ilmu politik di Universitas Rosario Bogota.
Kekerasan kian meningkat pada Senin malam lalu di kota ketiga terbesar, Cali, ketika demonstran mengatakan polisi melepaskan tembakan untuk membubarkan massa. Video memperlihatkan polisi melepaskan tembakan itu beredar luas di media sosial. Aljazeera tidak bisa memverifikasi kebenaran video clip tersebut.
Sumber di lapangan menyebut polisi menembak ke segala arah bahkan dari helikopter.
Korban tewas kerusuhan dalam demonstration ini masih simpang siur antara angka dari pemerintah dan LSM. Ombudsman Kolombia mengatakan 24 orang tewas sementara LSA Temblores mengatakan 37 orang tewas.
Polisi antihuru-hara melepaskan tembakan gas air mata untuk membubarkan demonstran di alun-alun Ibu Kota Bogota sekitar pukul 15.00 kemarin. Di bagian kota yang lain massa juga berkumpul untuk melawan aparat.
Demonstran mengatakan mereka akan terus turun ke jalan meski Presiden Ivan Duque dari aliran kanan sudah mencabut usulan reformasi pajak itu.
"Ya mereka sudah mencabut reformasi pajak itu tapi mereka belum mengubahnya," kata anggota serikat pekerja Olga Cabos, 48 tahun, yang ikut turun ke jalan sejak 28 April lalu di Bogota, seperti dilansir laman Aljazeera, Kamis (6/5).
"Kami tidak bisa membiarkan pemerintahan Duque terus-terusan mempersulit orang-orang miskin," kata dia kepada Aljazeera.
Unjuk rasa besar-besaran ini dipicu oleh reformasi perpajakan yang kata pemerintah bertujuan menstabilkan ekonomi akibat dihantam pandemi. Namun kelompok pekerja dan kaum menengah menyebut rencana reformasi pajak itu justru untuk menguntungkan kaum kaya dan mempersulit kaum miskin.
Duque mencabut pengajuan reformasi pajak itu pada Minggu dan menteri keuangan mengundurkan diri sehari kemudian. Namun kini demonstran menuntut usulan reformasi kesehatan juga dicabut dan mereka mendesak upah minimun bagi seluruh rakyat Kolombia sebesar USD 260 atau Rp 3,7 juta.
"Meski reformasi pajak menjadi pemicu demo, namun protes di Kolombia ini menggambarkan kondisi sosial, politik, ekonomi yang harus dihadapi pemerintahan Duque," kata Arlene Tickner, profesor ilmu politik di Universitas Rosario Bogota.
Kekerasan kian meningkat pada Senin malam lalu di kota ketiga terbesar, Cali, ketika demonstran mengatakan polisi melepaskan tembakan untuk membubarkan massa. Video memperlihatkan polisi melepaskan tembakan itu beredar luas di media sosial. Aljazeera tidak bisa memverifikasi kebenaran video clip tersebut.
Sumber di lapangan menyebut polisi menembak ke segala arah bahkan dari helikopter.
Korban tewas kerusuhan dalam demonstration ini masih simpang siur antara angka dari pemerintah dan LSM. Ombudsman Kolombia mengatakan 24 orang tewas sementara LSA Temblores mengatakan 37 orang tewas.
Komentar
Posting Komentar