Dicurigai Ada Deal Politik, Pengamat: Ada Kekeliruan di Lumbung Pangan Antara Jokowi - Prabowo
Jakarta - Penunjukan Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto untuk menangani
pengembangan program lumbung pangan nasional atau food estate oleh
Presiden Joko Widodo dinilai jadi kekeliruan dalam birokrasi modern-day.
Analis sosial politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah
Badrun menilai, keputusan tersebut merupakan kekeliruan karena dalam
pandangan birokrasi contemporary tugas, wewenang, maupun otoritas dari
Menhan terkait pertahanan, kekuatan, kapasitas militer dan ancaman
tantangan gangguan pada pertahanan negara bukan persoalan lahan maupun
pangan
"Jadi yang lebih keliru besar adalah yang memerintahkan Prabowo untuk
mengurusi pangan, yaitu Presidennya. Jadi dalam konteks ini ada dua
orang yang keliru besar Prabowo dan Jokowi," katanya saat dihubungi
merdeka.com, Rabu (15/7).
Menurutnya, tugas dan kewenangan untuk mengurusi lumbung pangan adalah
Menteri Pertanian, sebagai kementerian yang sudah jelas tugas dan
fungsinya. Termasuk kemampuan yang cukup untuk membangun lumbung pangan
baru di Kalimantan.
"Nah karena itu tidak sesuai dengan prinsip birokrasi contemporary maka
analisisnya meyakinkan kesimpulan bahwa kebijakan tersebut mengandung
area deal politik atau unsur politik. Ada semacam transaksi tertentu
diantara Jokowi dan Prabowo. Tetapi tidak bisa diungkap ke publik,"
tuturnya.
Sebagai analisis sosial politik, Ubed mencurigai terdapat kesepakatan
yang dilakukan antara Jokowi dan Prabowo dari apa yang ditunjukan kepada
publik. Terindikasi pada intensitas yang tinggi dari pertemuan antara
keduanya dan tidak adanya protes keras dari Menteri Pertanian.
"Ilmuwan sosial hanya bisa membaca dari fenomena empirik dan makna dari
perilaku yang mereka pertunjukan. Dari sisi itu nampaknya memang
terlihat sudah ada kesepakatan politik sebelumnya diantara mereka,"
jelasnya.
"Terlebih, kebijakan tersebut juga menambah daftar kekacauan tata kelola
pemerintahan saat ini. Hal ini berbahaya di tengah situasi pandemi
Covid-19 dan di tengah krisis ekonomi yang semakin parah," tambah Ubed.
Dia pun menyayangkan atas sikap Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin
Limpo yang tidak melontarkan protes atas keputusan Prabowo mengelola
lumbung pangan.
"Menteri pertanian diem aja, tidak melawan atau protes atau
mempertanyakan kebijakan tersebut. Padahal yang dikerjakan Prabowo atas
perintah Jokowi itu adalah seharusnya pekerjaan Menteri Pertanian,"
terangnya.
Komentar
Posting Komentar